Ngalor ngidul imajinasi Backstory meme Twitter #1

 

Jadi, saya menemukan foto ini di postingan teman, yang katanya ditemukan di khalayak Twitter. Mungkin sebenarnya tujuan nya untuk membangkitkan tawa ironi atau satir dari posting meme (?) tersebut. Kelihatan adek tersebut sedang menggambar (sepertinya manga) fan art atau sesuatu, sambil menjaga warung makan. Tapi saya melihat foto ini lebih lama dari biasanya saya browsing meme (Ha ha ha, scroll down), mungkin memantik sesuatu yang nostalgic di diri saya.


Entah kenapa, saya sering membiarkan imajinasi saya berkeliaran kemana mana di dalam kepala. Makanya, saat saya lihat foto tersebut, pikiran langsung jalan jalan tanpa ikat leher. Yang terlintas di otak saya saat itu adalah ; katakan lah nama adek ini adalah Gadis (yaitu nama sepupu saya). Dia sedang menduduki kelas 9 di sebuah sekolah menengah pertama di sebuah kota kecil pinggiran urbanisasi. Di sekolah, dia anak yang tidak macem-macem. Tergabung di kegiatan ekstra kurikuler OSIS, bukan karena ingin jadi pemerintah daerah, tetapi karena ingin bersosialisasi dengan rekan sebaya nya. Diapun tidak begitu tertarik dengan mata pelajaran yang dianggap penting oleh sekitarnya, seperti matematika, fisika, kimia, dan lain sebagainya. Dia lebih tertarik dengan literatur dan kesenian. Ini terlihat dari apa yang dia tuangkan di buku catatan yang tersampul kata-kata mutiara nya, di halaman depan ia menulis cerita untuk tugas bahasa Indonesia, di halaman belakang adalah games-games untuk membunuh waktu yang ia lakukan bersama teman sebangku,  dihiasi dengan gambar gambar figur karakter yang ia kagumi,kali ini dari komik jepang yang sering ia baca di internet.

Kehidupan nya di luar sekolahnya juga biasa-biasa saja, bermain ke rumah teman nya untuk sekedar mengobrol permasalahan remaja, bermain permainan permainan tradisional yang belum terkikis jaman, membantu orang tua nya di warung, menggambar fan-art yang ia kagumi. Mungkin terbesit di pikiran nya untuk menjadi seorang mangaka di masa depan. Tetapi, berbeda dengan kurun waktu saya ketika di umurnya, dimana komik jepang mempunyai embel-embel sosial “nerd” atau yang tergolong kaum culun yang sering dikucilkan oleh kaum sosial yang mainstream. Dia beruntung dalam memilih lingkaran sosial yang tidak begitu mementingkan strata sosial yang tertempel di masing-masing. 

Di sela-sela waktu yang ia punya, ia seringkali menawarkan diri untuk ikut menjaga warung yang menjual masakan ibu nya. selain untuk meringankan kerja orang tua, ia melakukan itu karena ingin nongkrong, melihat sekitar. Orang yang berlalu lalang, pelanggan yang kelaparan namun tetap harus mempertimbangkan dengan matang apa yang ingin mereka santap. Tetapi, tidak setiap saat warung tersebut sibuk dan ia pun merasa sedikit bosan. Saat foto ini diambil, ini adalah saat dimana lalu lintas warung sedang lamban. Ia biasanya membawa buku sketsa yang ia beli di area ATK pasar tradisional di daerahnya sepulang sekolah untuk memenuhi hobi nya. Tetapi, kali ini kakak sulung nya sedang pulang kampung libur kuliah, dan kebetulan membelikan adiknya sebuah tablet untuk menggambar sebagai buah tangan kehidupan perkuliahan yang ia dapat dari teman mahasiswa nya yang sedang membutuhkan uang darurat untuk ongkos pulang kampung. Gadis pun senang dan penasaran bagaimana rasanya menggambar selain menggunakan pensil dan kertas.

Hal pertama setelah mendapat tablet dari kakaknya, ia beranjak ke kamar orang tua nya untuk membangunkan ayahnya yang sedang tidur siang kekenyangan untuk meminjam laptop yang biasa ayahnya gunakan untuk mendata pemasukan dan pengeluaran warung. Sambil setengah bergumam dan menggerutu, sang ayah mengarahkan jarinya ke arah meja rias yang berfungsi sebagai meja kantor di paruh waktu. Sambil setengah berlari karena tidak mampu membendung kegelisahan dan kegembiraan nya, ia melontarkan sebuah pengumuman kepada ibunya yang sedang memasak untuk menu warung sore hari nya, "Bu, aku gambar di warung!", Ibu nya membalas tanpa mengerti sepenuhnya apa yang Gadis katakan "Awas kena bumbu rendang!". Di bayangan ibu nya, menggambar itu dengan pensil dan kertas, maka yang menjadi perhatian nya adalah kertasnya akan ternoda oleh kuah-kuah dan bumbu masakan.

Sesampainya di warung, kakak sulung nya sudah menunggu sambil menyeruput kopi dan menghisap rokok, melihat adik nya  datang, ia segera membantu mempersiapkan hubungan antara laptop dan tablet sebagai gawai pengganti kertas dan pensil untuk adiknya. Setelah semua siap, mata Gadis berbinar oleh kegelisahan  saat mencoba  menorehkan garis pertama nya, dan kakak nya kembali kepada rokok dan kopi sambil memperhatikan adiknya yang saat ini sedang bergejolak emosi.

Point dari cerita diatas adalah mungkin saya terlalu banyak mengkonsumsi anime slice of life dan drama jepang yang wholesome akhir-akhir ini. Atau mungkin kenyataan disekitar saya sedang tidak terlalu exciting, dan stagnan sehingga saya mencari character development di sudut luar dari diri sendiri. Hadeuh.

Komentar

Postingan Populer