Sweet Bean (あん) : A Sweet Taste of Life (2015)


3 Peran utama dalam film Sweet Bean (あん, dibaca: An) karya Naomi Kawase yang tayang tahun 2015. Dari kiri ke kanan ; Kyara Uchida sebagai Wakana, Kirin Kiki sebagai Tokue, dan Masatoshi Nagase sebagai Sentarô


Disclaimer : Saya bukan penulis profesional, ahli film maupun jurnalis film, hanya seorang penikmat film.





Setelah menonton film cinema karya Naomi Kawase yang berjudul The Mourning Forest (2007) yang mengangkat tema seputar duka dan bagaimana manusia memproses rasa berduka dan penyesalan, saya terpantik untuk mencari tahu lebih dalam mengenai sutradara dari Jepang ini. 

Naomi Kawase adalah salah satu sutradara favorit Cannes Film Festival. Sejak tahun 1997, 4 film karya nya turut serta dalam nominasi Palme d’Or (Palem Emas) yang adalah nominasi tingkat tertinggi di Cannes Film Festival, dan Naomi Kawase telah di anugerahi penghargaan Camera d’Or (Kamera Emas) dan Prix du Jury (Hadiah Juri) selama masa karirnya.


Pada karya nya yang di rilis tahun 2015 berjudul Sweet Bean, Kawase berhasil membuat emosi saya muncul ke permukaan tanpa disadari dari awal hingga akhir menikmati film karya nya. Alur cerita Sweet Bean mengangkat seputar makanan, proses hidup, dan suka cita yang berdasar dari dedikasi kepada pekerjaan. Terdapat aura yang menarik perhatian dan menstimulasi kadar Oxytocin dalam tubuh ketika melihat seseorang yang melakukan pekerjaan nya dengan penuh dedikasi dan kecintaan. Itulah mengapa saya sangat sering mengkonsumsi konten crafting dan craftmanship dari berbagai media dan Sweet Bean ada di tempat spesial di benak saya.



Masatoshi Nagase yang memerankan Sentarô, dan bagian operasional toko Dorayaki nya.


Sentaro (Masatoshi Nagase) adalah seorang laki-laki paruh baya yang terlihat minim berkata-kata. Sentaro menjalankan toko Dorayaki (Kue tradisional Jepang kesukaan Doraemon) dimana ia membuat dan langsung disuguhkan ke pelanggan nya hangat-hangat. Dorayaki adalah kue yang terdiri dari 2 lapis pancake dan olahan kacang manis (Sweet Bean) yang disebut An (あん). Setiap hari, Sentaro mempersiapkan adonan yang menjadi bahan pancake toko Dorayaki nya. Setelah adonan pancake dan An nya siap, ia membuka tirai jendela toko yang menandakan bahwa ia sudah siap menyuguhi pelanggan nya dengan Dorayaki hangat. Sentaro memanggang adonan nya secara hati-hati untuk memenuhi kriteria yang ia punya, apabila terdapat pancake yang menurutnya kurang sempurna (Reject), ia kumpulkan untuk diberikan secara cuma-cuma nantinya. Shot kamera yang merekam Sentaro mulai dari ia bersiap-siap hingga memasak terlihat seperti ritual sakral, Ia mengaduk, menyingkup, dan menuangkan adonan nya ke atas wajan dengan hati-hati dan terukur. Namun, berbalik dengan pancake nya yang terlihat nikmat, Sentaro tidak menampilkan kegiatan memasak Dorayaki dan melayani pelanggan nya sebagai hal yang menyenangkan.



Kyara Uchida sebagai Wakana


Mendiang Kirin Kiki sebagai Tokue


Toko Dorayaki milik Sentaro ini yang menjadi tempat kejadian dan awal cerita yang bersahaja dan emosional. Peran utama yang dikenalkan lebih awal adalah Wakana (Kyara Uchida), Seorang pelajar SMP penyendiri yang merupakan salah satu pelanggan Sentaro. Ketika Wakana sedang menyantap Dorayaki, muncul satu sosok wanita lansia yang mampir ke toko Sentaro untuk mencicipi Dorayaki nya. Wanita lansia ini diperankan oleh mendiang Kirin Kiki, sebuah performa yang mengajak penonton untuk ikut mengapresiasi dan mencintai tokoh Tokue. 


Tokue (Kirin Kiki) datang menghampiri Sentaro untuk menanyakan tentang pekerjaan paruh waktu yang di umumkan di jendela toko Dorayaki nya. Sentaro melihat penampilan Tokue yang terlihat sudah lansia berusaha menolak dengan alasan gaji kecil, pekerjaan berat, dan tubuh tua Tokue. Namun, setelah mencicipi An buatan Tokue, Sentaro terkejut dan tercerahkan. Ini mengingatkan saya ke plot peran foodies seperti “Ratatouille” atau “The Hundred-Foot Journey”, “Chef” dan “Madrè” karya Dewi Lestari. 


Sweet Bean menawarkan selai kacang merah sebagai subjek yang melebihi sebuah pengolahan bahan makanan. Tokue tidak hanya mengolah kacang, ia ajak bicara, mendengarkan, dan menyambut mereka seperti tamu kehormatan di kerajaan nya. Tokue percaya bahwa apapun yang ada di dunia mempunyai cerita yang mereka bawa selama masa eksistensi nya, termasuk kacang merah. “They came all this way from the fields”.

Naomi Kawase sebagai Sutradara memiliki cerita yang ingin disampaikan tentang Sentaro dan Tokue, cerita yang memperlihatkan sisi baru dari Sentaro yang skeptis dan impasif, dan hubungan nya dengan Tokue yang kegirangan karena diterima bekerja, dan diapresiasi oleh individu lain.

Film Sweet Bean yang berjalan dengan lambat, lemah lembut, dan meditasional mampu membuat saya berkaca kepada batasan kehidupan bermasyarakat di sekitar, usia senja, dan pentingnya kita sebagai individu untuk menyampaikan cerita masing-masing, yang terkadang menyangkut resep makanan, dan kebahagiaan menyantap makanan yang di olah dengan dedikasi dan kasih sayang. Dan mampu membuat saya merindukan mendiang Ibu saya dan masakan nya.



Komentar

Postingan Populer